perang pasangan

Teknik Negosiasi Damai Pasca “Perang” Dengan Pasangan

Wartawanita.com – Istilah ‘negosiasi’ biasanya sering terdengar dalam urusan bisnis atau masalah pekerjaan. Tetapi ternyata dalam berhubungan dengan pasangan juga memerlukan ‘negosiasi’ juga lho. Hanya saja negosiasi dengan pasangan itu merupakan salah satu bentuk upaya untuk berkomunikasi dan berkompromi dalam rangka untuk mencari jalan keluar jika ada masalah di dalam keluarga.

Bernegosiasi juga bukan hanya pada pasangan, tetapi juga dengan anggota keluarga lainnya. Misalkan untuk merencanakan ingin berlibur kemana, hal ini dapat dinegosiasikan dengan anggota keluarga lain seperti dengan buah hati karena berhubungan dengan budget atau dalam hal penerapan disiplin terhadap buah hati juga membutuhkan negosiasi dengan dua belah pihak yaitu pasangan dan buah hatinya.

Hal lain yang biasanya penting untuk dinegosiasikan adalah tentang penerapan waktu untuk keluarga jika istri memutuskan kembali untuk aktif bekerja. Atau juga negosiasi apabila salah satu sedang mendapatkan tugas untuk keluar kota. Banyak sekali contoh-contoh masalah yang terjadi dengan pasangan yang memerlukan keterampilan untuk bernegosiasi.

Harus Ada Titik Temu

Intinya kepandaian ber-negosiasi dapat dimanfaatkan untuk membahas masalah kecil maupun masalah besar. Terpenting adalah bahwa masalah yang akan dinegosiasikan ini  memang merupakan permasalahan yang harus dikomunikasikan dan disepakati bersama dengan konsisten. Misalkan disetiap tahun ajaran baru, pasangan harus mencari kata sepakat tentang ke sekolah mana buah hati akan didaftarkan.

Bernegosiasi akan memberikan banyak manfaat bagi pasangan. Dengan menciptakan budaya negosiasi akan mencegah munculnya  perasaan kurang dihargai, tidak diperhatikan, dan didengar pendapatnya dalam sebuah keluarga. Ingat, bahwa setiap individu akan mempunyai persepsi dan  taraf penilaian  yang berbeda untuk setiap masalah.

Perbedaan-perbedaan pendapat ini yang harus dikomunikasikan dengan pasangan dan kemudian ‘ditawar’ alias dicari jalan tengahnya untuk kemudian sampai pada kata kesepakatan yang mengacu keinginan kedua belah pihak.

Misalkan jika menghukum buah hati dengan cara dikurung itu merupakan hal yang wajar bagi pasangan agar nanti tidak ada kejadian kedua tapi menurut kita hukuman seperti itu tidak pantas diberlakukan pada anak karena akan membuat anak secara psikologi akan terganggu. Nah, hal-hal seperti contoh ini haruslah dijadikan bahan negosiasi sebagai jembatan adanya perbedaan.

Bernegosiasi harus dilakukan sampai didapatnya sebuah titik temu agar kedua belah tidak merasa terabaikan dan yang jelas tidak menjadikan pihak lain sebagai korban.

Waktu Tepat Untuk Bernegosiasi

Saat ingin melakukan negosiasi sebaiknya dipilihlah waktu yang tepat. Waktu yang sangat tidak disarankan untuk memulai negosiasi  adalah saat pasangan pulang kerja, sedang terburu-buru, sedang serius menghadapi pekerjaan atau memang sedang ada masalah di kantor. Jika ingin menghasilkan negosiasi untuk mendapatkan hasil yang positif maka pilihlah waktu misalkan pasangan sudah mulai santai dan tidak sedang mengerjakan apa-apa.

Ingat, dalam bernegosiasi haruslah fokus. Tetap perhitungkan ketersediaan waktu untuk bernegosiasi. Jangan sampai karena asyik bernegosiasi menjadi lupa untuk melakukan hal lainnya. Pada prinsipnya perhatikan kondisi fisik dan psikologis pasangan harus kondusdif untuk diajak berdiskusi dan bernegosiasi.

Bernegosiasi dengan pasangan tentunya akan berbeda dengan bernegosiasi untuk urusan kantor. Jadi seyogyanya ciptakanlah atmosfer atau suasana yang pas sebelum melakukan negosiasi. Usahakan masing-masing pihak dala kondisi yang relaks dan berprinsiplah bahwa pasangan bukanlah sebagai kompetitor tetapi sebagai kolaborator.

Selamat bernegosiasi ya.

Kode unik: W#psikologi01

Tags:
0 shares
                            192 Views