menetri cewek

Srikandi Kabinet Jokowi

Wartawanita.com – Secara kuota, kehadiran delapan menteri perempuan di Kabinet Kerja pemerintahan Joko Widodo merupakan yang terbanyak sepanjang sejarah pemerintahan negeri ini. Secara performa, kredibilitas dan kompetensi perempuan-perempuan pilihan ini belum begitu teruji, mengingat masa bakti mereka yang belum genap berusia satu semester.  Namun beberapa nama sempat menjadi buah bibir di masyarakat. Meski tak semuanya berhubungan dengan kinerja mereka.

Kedelapan perempuan itu  adalah Menteri Badan Usaha Milik Negara Rini Soemarno, Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup Siti Nurbaya, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, Menteri Kesehatan Nila F Moeloek, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise, Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi, dan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. Srikandi terbaru Kabinet Jokowi adalah Sri Mulyani yang menduduki posisi Menteri Keuangan.

Sejak dilantik 27 Oktober tahun lalu, setidaknya ada beberapa nama yang menjadi sorotan publik. Yang pertama adalah penunjukan Puan Maharani sebagai Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. Meski merupakan menteri  perempuan yang paling muda, Puan menduduki jabatan yang sedikit lebih “bergengsi”, dibanding yang lainnya. Puan cukup lama malang melintang di DPR, termasuk menjadi  Ketua Fraksi PDI Perjuangan di DPR RI untuk periode masa bakti 2009 – 2014, tapi toh ada saja yang meragukan kemampuan perempuan kelahiran  6 September 1973 ini. Setidaknya hal ini tercermin dari hasil survey Cyrus Network yang dirilis akhir tahun lalu. Dalam survey tersebut hanya 10,9 persen responden yang mengatakan  Puan Maharani memberi harapan, 12,6 persen meragukan kinerja Puan dan 76,4 persen tidak memberi komentar.

Selain minim pengalaman di birokrasi, sikap  apriori masyarakat ini boleh jadi dilandasi status Puan yang notabene adalah putri Megawati Soekarnoputri, Presiden ke-5 RI yang juga Ketua Umum PDI Perjuangan. Padahal, kalau kita mau fair, Puan bukanlah “anak kemarin sore” di dunia politik tanah air. Lagipula, sebagai pemenang pemilu, PDI Perjuangan tentunya punya privilige saat menyodorkan kadernya untuk diseleksi Jokowi.

Kehidupan pribadi Menteri  BUMN Rini Soemarno, juga tak luput diutak-atik para  gossipers.  Pascaperceraiannya dengan Didik Soewandi 2006 silam, Rini sempat dikabarkan dekat dengan seorang jenderal. Isu  tersebut  sudah dibantah perempuan kelahiran Maryland, US, 9 Juni 1958 ini.

Sementara itu  terpilihnya Susi Pudjiastuti (lahir di Pangandaran, 15 Januari 1965) sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan, juga tak kalah mengundang kontroversi. Presdir PT ASI Pudjiastuti Marine Product  dan PT ASI Pudjiastuti Aviation ini langsung jadi trending topic tak lama setelah dilantik. Hal ini dipicu oleh beredarnya foto Susi yang sedang ngedeprok sambil merokok di lingkungan istana. Pendidikan Susi yang sebatas SMP serta tato yang menghiasi betis kanannya, makin menyulut api gosip kala itu.

Tak butuh waktu lama bagi Susi untuk membuktikan diri bahwa dia “more than just a smoking woman with tattoes”. Kebijakan demi kebijakan signifikan diambil  Susi setelah menjadi menteri, salah satunya adalah menenggelamkan kapal-kapal pencuri ikan. Para doubters atau bahkan haters pun berbalik arah menjadi fans. Di dunia maya, Susi sering dibandingkan dengan mantan Gubernur Banten yang kini jadi terpidana kasus korupsi, Ratu Atut Chosiyah. Secara penampilan, keduanya boleh dibilang bak langit dan bumi.

“Saya memang nggak berpendidikan seperti kebanyakan anggota kabinet lainnya. Tapi kalau boleh saya mengklaim, saya seorang profesional,” kata Susi saat jumpa pers tak lama setelah diumumkan terpilih menjadi menteri.

Bagi Susi, dedikasi dan komitmen total yang disertai passion adalah kunci untuk membangun sebuah perusahaan yang bermanfaat. Rokok dan tato tidak akan menganggu kinerjanya. Susi juga menandaskan kalau ia tidak pernah berniat untuk merombak penampilannya menjadi seperti ibu-ibu pejabat pada umumnya.

Perilaku menilai orang dari penampilannya rupanya sudah menjadi habit kebanyakan orang Indonesia. Paling tidak kenyataan itulah yang dikemukakan psikolog Kasandra Putranto. “Kebanyakan masyarakat kita memang masih seperti itu. Pepatah don’t judge a book by its cover, sudah semestinya diterapkan sebelum kita menilai seseorang. Penampilan sangat mungkin menyesatkan,” kata Kasandra, yang berharap semua menteri mampu menghasilkan kebijakan yang langsung dirasakan manfaatnya.

Kasandra  mengaku mengalami kesulitan untuk mengetahui performa 100 hari pertama seorang menteri lantaran kurangnya media untuk itu. Menurutnya, salah satu cara untuk mengevaluasi kinerja menteri adalah dengan membuka akses seluas-luasnya kepada masyarakat untuk mengetahui progres atau pencapaian yang dilakukan. Kalau perlu, di setiap kementrian dibentuk semacam unit corporate communication.

Popularitas Susi – termasuk gayanya yang eksentrik – mungkin agak kelewat menyita perhatian, hingga membuat kita tidak terlalu aware dengan menteri-menteri cewek lainnya. Padahal mereka juga nggak kalah hebat dibanding menteri laki-laki sekalipun. Khofifah Indar Pawarwansa, Rini Soemarno, Nila Moeloek  dan  Siti Nurbaya  adalah pemain kawakan di bidangnya masing-masing. Retno adalah perempuan pertama yang menjabat sebagai Menteri  Luar Negeri. Sementara Yohana Yembise merupakan perempuan Papua pertama  yang menjadi Menteri.

Dengan kata lain, mereka bukan perempuan biasa. Sudah semestinya mereka dinilai dari kinerjanya, bukan dari penampilan, gaya hidup, pendidikan atau masa lalunya. Setidaknya, beri kesempatan kartini-kartini moderen ini untuk membuktikan diri bahwa mereka bukan pemanis Kabinet Kerja Jokowi-JK.

Kode unik: W#persona40

LADIES MUST READ

Tags:
0 shares
                            159 Views