Giwo-e1489030135740-680x420

Obsesi Anak Indonesia Sehat Sri Woerjaningsih

Wartawanita.com – Cerdas, cantik dan energik. Gambaran profil ini sangat cocok dan pas ditujukan bagi wanita Indonesia yang satu ini. Siapa lagi kalau bukan Dr.Ir. Hj Sri Woerjaningsih, M.Pd yang kerap disapa dengan panggilan nama Giwo Rubianto. Kecintaannya pada keluarga yang sangat mendukung karir dan profesinya menggugah naluri kewanitaan dan keibuannya untuk kerap Kampenyakan Progam PHBS – Perilaku Hidup Bersih dan Sehat – Dalam Mewujudkan Anak Indonesia yang Sehat dan Ceria.

Menurut pengamatan ibu dari empat jagoan ini, berdasarkan data dari Indonesia Research Foundation tahun 2012, ditemukan 56 persen masyarakat Indonesia belum menerapkan PHBS.

Seharusnya kesehatan dijadikan aset dan modal untuk masa depan demi terciptanya kehidupan yang lebih sejahtera,” ungkap wanita kelahiran Bandung, 8 Mei 1962.

Selain itu penerima gelar Putri Ayu tahun 1981 ini menambahkan, banyak faktor penunjang agar hidup kita sehat salah satunya ditopang dengan lingkungan yang bersih. Dapat dikatakan keduanya dianalogikan bagaikan 2 sisi mata uang logam, mau sehat bersih dan mau bersih sehat.

Masih menurut penerima penghargaan 99 Most Powerful Women dua kali berturut-turut pada tahun 2007 – 2008 dari majalah Globe Asia yang juga berprofesi menjadi wanita pengusaha yang saat ini menjabat sebagai Presdir dan Komisaris PT BUMISATU GROUP (Property Development). “Ada sebelas indikator perilaku yang digunakan dalam PHBS, antara lain tidak merokok, persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan, pemberian ASI eksklusif, imunisasi, balita ditimbang, sarapan pagi, makan buah dan sayur, cuci tangan, gosok gigi serta rajin olah raga.”

Sedangkan dari aspek lingkungannya, PHBS harus memenuhi tujuh indikator seperti tersedianya jamban air bersih, bebas jentik, pemilahan sampah, sistem pembuangan air limbah (SPAL), ventilasi, lantai dan kepadatan rumah.

Masalah PHBS dan upaya mewujudkan Anak Indonesia yang sehat dan ceria diangkat menjadi issue utama Giwo Rubianto saat menyambangi masyarakat di wilayah Jakarta Barat, Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu.

Masyarakat di tiga wilayah ini masih minim informasi tentang masalah perilaku hidup bersih dan sehat. Saya merasa sangat bertanggung jawab untuk mensosialisasikan kepada masyarakat agar PHBS bisa diserap dan dijalankan di kehidupan masyarakat itu sendiri baik di dalam keluarga maupun sekolah ”, tutur Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) periode 2014 – 2019.

Dan bagaimana untuk mewujudkan anak yang sehat? Untuk menjawab pertanyaan ini mantan Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI periode 2004 – 2007) PHBS perlu pula dikembangkan di sekolah. PHBS di sekolah adalah sekumpulan perilaku yang dipraktekan oleh peserta didik, guru dan masyarakat lingkungan sekolah atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran, sehingga secara mandiri mampu mencegah penyakit, meningkatkan kesehatannya serta berperan aktif dalam mewujudkan lingkungan sehat.

Ditegaskan penerima penghargaan Ibu award dalam acara Hari Ibu 2008 dari Kementrian Negara Pemberdayaan Perempuan RI, ada beberapa indikator yang dipakai sebagai ukuran untuk menilai PHBS di sekolah seperti mencuci tangan dengan air yang mengalir memakai sabun, mengkomsumsi jajanan sehat di kantin sekolah, menggunakan jamban yang bersih serta sehat, olah raga yang teratur dan terukur. Memberantas jentik nyamuk, tidak merokok di sekolah, menimbang berat badan serta mengukur tinggi badan setiap 6 bulan dan membuang sampah pada tempatnya.

Ada solusi yang disampaikan Ketua Umum Gerakan Wanita Sejahtera periode 2000 – hingga sekarang ini, dalam mewujudkan tercapainya PHBS di Indonesia serta menciptakan lingkungan anak yang sehat. Perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut, seperti membudayakan PHBS dimulai dari rumah tangga kemudian di sekolah, meningkatkan sosialisasi PHBS dari tingkat RT/RW secara intensif serta berkesinambungan, meningkatkan kerjasama dengan CSR perusahaan guna memaksimalkan terwujudnya PHBS, melibatkan tokoh masyarakat setempat sebagai konselor PHBS, dan memaksimalkan peran serta remaja untuk berperan aktif mensosialisasikan PHBS di lingkungan sekitarnya.

Permasalahan pada ibu dan anak yang paling menonjol adalah seputar kesehatannya. Saya sangat prihatin dengan kondisi ini dan berniat akan terus mengkampanyekan progam PHBS ini,” ungkapnya mengakhiri perbincangan.

Kode unik: W#persona69

Tags:
0 shares
                            215 Views