bcl

Nikmatnya Musik Rasa Ayam…

Wartawanita.com – Kehadiran teknologi baru biasanya menawarkan dua hal, kemudahan dan “kemudaratan”. Tak terkecuali dalam industri musik. Semenjak kehadiran teknologi digital yang bisa mengkonversi musik ke dalam format kompresi seperti MP3 dan AAC, industri musik seperti mati suri. Siapapun bisa dengan mudah (dan gratis) men-download musik via internet untuk kemudian membaginya lewat ponsel atau  gadget lainnya. Penyedia download legal macam iTunes nyaris tak digubris di sini.

Walhasil, rekaman dalam bentuk  CD tak lagi laku dijual, label-label raksasa pun berguguran. Upaya merger yang dilakukan sejumlah label global juga terbukti  tak banyak menolong. Toko-toko CD kian lengang, sebelum akhirnya gulung tikar. Dengan kondisi begini, revenue musisi  praktis hanya mengandalkan tawaran show yang juga makin sulit didapat. Kenyataan ini, bisa jadi, hanya akan membuat musisi enggan berkreasi.

“Meski penjualan fisik rekaman boleh dibilang sudah mati, tapi hal itu nggak boleh jadi alasan untuk berhenti berkreasi. Hal itu harusnya justru jadi tantangan buat menyikapi dan menyiasati teknologi,” ujar Armand Maulana, vokalis Gigi.

Perilaku konsumen, menurut Armand, memang berubah drastis sejak era musik digital. Kurangnya sosialisasi massal soal pembajakan membuat orang (termasuk anaknya)  “tidak sadar” bahwa download gratisan adalah ilegal. Dan tidak seperti pada era CD dan kaset, konsumen saat  ini hanya membeli lagu yang mereka sukai.

Lantas bagaimana cara publisher musik memasarkan produknya? Setelah nada tunggu atau ring back tone (RBT) tak lagi jadi primadona, berbagai manuver dilakukan label untuk menjajakan albumnya. Salah satunya adalah dengan menggandeng channel-channel mini market dan jaringan restoran cepat saji seperti KFC. . Bagi KFC sendiri, kehadiran musik dianggap sebagai media yang efektif untuk meng-grab konsumen yang lebih muda. Strategi yang biasa dijalankan adalah dengan melakukan bundling CD dengan menu tertentu. Selain bundling, konsumen juga bisa membeli CD secara terpisah dengan harga di bawah harga banderol. Armand mengaku sempat “tersinggung” saat ada follower twitter-nya merespon sinis model  penjualan “bareng ayam” ini

Dibanding cara lainnya, penjualan album  di 400-an cabang KFC terbilang yang paling menjanjikan. Dalam sebulan, rata-rata outlet mampu menjual seribuan keping CD. Karenanya – boleh dibilang – saat ini KFC merupakan the last hope bagi industri musik tanah air.

“Terbatasnya outlet penjualan CD membuat kami mencari alternatif channel untuk memasarkan album, termasuk dengan menggandeng  KFC,” ungkap Alex Sancaya, Managing Director Sony Music Indonesia.

Sejauh ini, menurut Alex, album-album artis Sony seperti Fatin, Judika, Rio Febrian dan Yovie & Nuno yang dipasarkan lewat KFC rata-rata berhasil melampaui angka 100 ribu kopi. Cukup bagi mereka untuk meraih predikat platinum. Sebelum era digital, predikat ini hanya bagi mereka yang berhasil menembus angka satu juta kopi. Kerjasama antara label dan pihak KFC  (yang diwakili Swara Sangkar Emas dan Music Factory ) dilakukan dengan sistem konsinyasi.

Seperti juga RBT, hukum rimba berlaku dengan amat kejam pada metode titip jual ini. Hanya the strongest will survive. Pihak outlet tentunya harus selektif sebelum memajang  sebuah album di gerai  mereka. Dalam arti,  mereka hanya akan mempromosikan album yang (berpotensi) laku dijual. Akibatnya, hanya nama-nama musisi “bergaransi” yang mampu menembus moda pemasaran seperti ini. Padahal tidak semua musisi pernah punya banyak hits. Padahal lagi, begitu banyak penyanyi atau band baru potensial yang setiap saat bermunculan. Musisi pun, akhirnya, dihadapkan pada kenyataan sulit yang cenderung  pahit: bisa rekaman tapi nggak bisa jualan…

LADIES MUST READ

Tags:
0 shares
                            147 Views