Menunda Keriput dengan Botox Generasi Baru

Menunda Keriput dengan Botox Generasi Baru

wartawanita.com –  Menunda Keriput dengan Botox Generasi Baru. Tetap terlihat muda dan tampil fresh adalah obsesi banyak orang. Bukan cuma wanita. Tren kebutuhan masyarakat dalam menjaga penampilan, beriringan dengan perkembangan teknologi di bidang estetika medis. Mulai dari perawatan neuromuscular hingga teknologi koreksi garis wajah untuk mengatasi masalah penuaan. Di Indonesia, permintaan akan solusi masalah penuaan, khususnya suntikan anti-keriput, telah menjadi tren dalam estetika medis. Dimana diantara sekian banyak suntikan anti-keriput, neurotoksin dan dermal filter adalah perawatan yang paling umum digunakan.

Dr. Adri Dwi Prasetyo - Menunda Keriput dengan Botox Generasi Baru
Dr. Adri Dwi Prasetyo – Menunda Keriput dengan Botox Generasi Baru

Menunda Keriput dengan Botox Generasi Baru “Botulinum toxin type A adalah neurotoksin yang paling umum digunakan dalam estetika medis dan dianggap sebagai salah satu solusi preventif untuk anti penuaan yang paling penting,” jelas Dr. Adri Dwi Prasetyo, selaku Board Certified Dermatologist.

Lebih lanjut, pria yang aktif sebagai scientific dan clinical development di Indonesia dan Asia Pasific ini menyebut bahwa pada prakteknya masih ada kebingungan terkait dengan kegunaan Botulinum Toxin tipe A dan dermal filter dalam usaha mengatasi masalah keriput pada wajah.

Keduanya memang sama-sama suntikan anti-keriput, tapi secara kegunaan Botulinum Toxin tipe A dan dermal filter memiliki fungsi yang berbeda. Botulinum Toxin tipe A lebih umum digunakan untuk mengatasi keriput yang disebabkan oleh ekspresi wajah (senyum, menyipitkan mata, mengerutkan kening), sedangkan dermal filter untuk mengatasi keriput di garis wajah statis, misal disebabkan oleh lipatan nasolabial,” jelas Dr. Adri.

Secara umum, keriput sendiri dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis: garis ekspresi dan garis statis. Garis ekspresi disebabkan oleh kontraksi dari otot-otot ekspresi wajah, misalnya senyum, menyipitkan mata atau mengerutkan kening. Sementara garis statis terlihat saat istirahat tanpa kontraksi otot, seperti lipatan nasolabial.

Ekspresi wajah yang berulang akan membentuk kerutan sementara dan selanjutnya menjadi kerutan permanen atau statis. Kedua jenis kerutan ini perlu treatment yang berbeda,” jelas Dr. David Sudarto Oeiria, Trainer of Dermatologic Surgery.

Dermal fillers Cocok Untuk Garis Statis

Dr. Philip Levy, salah satu penggagas Aesthetic Dermatology asal Kanada mengungkapkan bahwa suntikan dermal filter berfungsi sebagai pengganti dari jaringan lunak, mengisi lipatan dan menghapus keriput.

Asam Hialuronat, Kalsium Hidroksilapatit dan asam polilaktat adalah dermal filter yang paling umum. Asam Hialuronat memiliki onset yang cepat dalam mengurangi kerutan statis, Kalsium Hidroksilapatit berfungsi sebagai agen pengisi dan juga perangsang produksi kolagen, sedangkan Asam Polilaktat akan merangsang pertumbuhan kolagen. Inilah mengapa dermal filter lebih cocok digunakan untuk mengatasi keriput garis statis, ” jelas Dr. Levy.

Botulinum toxin type A Untuk Mengurangi Garis Ekspresi

Garis ekspresi adalah garis halus dan kerutan yang disebabkan oleh gerakan wajah dari kontraksi otot, hilangnya kelembaban, kalogen dan lemak di kulit. Ekspresi wajah berulang seperti tersenyum, cemberut, menyipitkan mata juga akan menyebabkan kompresi kulit yang menghasilkan pembentukan kerut. 

Botulinum Toxin tipe A mengganggu transmisi saraf pada neuromuscular junction, menyebabkan kelumpuhan otot dan mengurangi garis-garis dalam jangka waktu tertentu, sehingga bekerja lebih baik untuk garis ekspresi,” ungkap Dr. Levy.

Generasi Baru Botox

OnabotulinumtoxinA, abobotulinumtoxinA dan incobotulinumtoxinA adalah Botulinum Toxin tipe A yang umum dikenal di kedokteran estetika dan sudah disetujui peredarannya oleh FDA. Incobotulinum toxin A dari Merz Aesthetics telah disetujui untuk penggunaan estetika di lebih dari 20 negara di seluruh dunia.

Secara klinis, protein pengompleks clostridial telah ditemukan berkaitan dengan peningkatkan produksi antibodi, dan karena itu dapat meningkatkan risiko netralisir antibodi terhadap efek BTX-A. Meski masih jarang namun pembentukan antibodi dapat terjadi pada pasien dengan suntikan yang ditingkatkan. 

Menurut riset pasar yang dilakukan oleh salah satu badan riset independen di Korea, hampir 50% pasien pengguna Botulinum Toxin mengalami adanya penurunan efek dari penggunaan botulinum toxin ini. Penurunan lebih lanjut dalam beban protein suntikan BTX -A mungkin bermanfaat pada pasien yang menerima beberapa siklus suntikan BTX-A.

Incobotulinum toxin A dari Merz Aesthetics dihasilkan oleh proses pembuatan yang unik menggunakan teknologi canggih Jerman dengan memanfaatkan produk botulinum neurotoxin tipe A yang telah disetujui FDA Amerika Serikat, yang bebas dari pengompleksan protein kini resmi disetujui untuk dipasarkan di Indonesia oleh BPOM pada 2017.

Efek dari pengobatan garis-garis kerut glabellar dapat dilihat hanya setelah 2 sampai 3 hari dan dapat bertahan hingga 4 bulan. Berminat Mencoba?

 

Tags:
0 shares
                            573 Views