lgbt2

Menularkah Perilaku LGBT ?

Wartawanita.com – Beberapa waktu yang lalu Jakarta sempat dihebohkan dengan penggrebekan di salah satu pusat kebugaran di Jakarta Utara oleh Kepolisian. Kejadian ini memang sempat membuat masyarakat terkejut karena ternyata masalah LGBT (lesbian, gay, biseksual, transgender) ini sudah demikian terbuka di Indonesia. Kondisi mereka sebagai penyuka sesama jenis, ditambah lagi dengan pesta orgi yang sedang mereka lakukan memang benar-benar mengejutkan.

“Pesta orgi yang dilakukan kaum heteroseksual saja pasti membuat masyarakat terkejut, apalagi pesta orgi yang dilakukan oleh kaum homoseksual. Lagipula selama ini kaum homoseksual dikenal tertutup dalam mengekspresikan orientasi seksualnya,” demikian penjelasan Yeni Dewi Siagian, Psikolog dari Butterfly Consulting Indonesia.

Selama ini sudah banyak penelitian yang dilakukan untuk mencoba mengungkapkan faktor penyebab seseorang berubah menjadi homoseksual. Beberapa penelitian ada yang menemukan bahwa peran ayah yang lemah dan ibu yang dominan dalam keluarga dapat membuat seorang anak laki-laki menjadi tertarik dengan laki-laki juga bukan pada lawan jenisnya. Kurangnya peran serta ayah di dalam keluarga, serta pengaruh ibu yang sangat besar dalam keluarga membuat seakan-akan fungsi ayah kurang berperan dalam keluaraga.

“Hal ini dapat membuat seorang anak laki-laki akan mencari figur laki-laki lain di luar rumah, dan menunjukkan ketertarikan seksual yang tidak lumrah pada pria tersebut,” tambah Yeni.

Banyak Faktor Menjadi Penyebab LGBT

Namun demikian, ada juga kasus- kasus lain dimana laki-laki menjadi gay karena pernah dipaksa oleh pamannya di masa kecil. Sebagaimana yang pernah diungkapkan salah seorang selebriti tanah air, pengalaman dipaksa oleh paman sendiri di masa kecil membuatnya sempat membuat artis ini menjadi pria penyuka sesama jenis.

Yeni juga tidak menampik bahwa banyak juga mereka yang menjadi gay karena desakan faktor ekonomi, karena mengikuti kemauan bosnya yang homoseksual, supaya naik jabatan dan gaji. Atau juga yang memberikan alasan ‘dendam’ kepada lawan jenis karena terlalu sering sakit hati dan kecewa pada lawan jenisnya sehingga mengalihkan ketertarikannya pada sejenisnya dan lain-lain.

“Orientasi homoseksual tidak menular seperti penyakit flu misalnya, karena tentu saja ada kesempatan seseorang untuk berpikir sebelum memutuskan apakah ia memilih menjadi homoseksual atau heteroseksual,” jelas Psikolog yang sering menemukan kasus LGBT ini.

Namun ketika seseorang berteman baik dengan mereka yang homoseksual, maka ia akan memiliki nilai yang mendukung perilaku homoseksual itu. Sama seperti orang yang memiliki lingkungan pertemanan dengan para penggosip misalnya, lama kelamaan ia tidak akan menganggap menggosip itu sebagai perilaku yang keliru. Akibatnya bisa saja ketika ada peristiwa tertentu yang berkaitan dengan beberapa hal yang disebutkan tadi terjadi pada dirinya, ia akan memutuskan untuk menjadi homoseksual. Apalagi jika individu juga memiliki lingkungan yang memang mendukungnya untuk memiliki orientasi seks homoseksual.

Memang seyogyanya sebagai individu ada baiknya dapat memilih teman dengan bijaksana. Siapa saja orang-orang yang dapat menjadi sahabat kita karena lambat laun nilai-nilai dari sahabat kita akan kita masukkan dalam diri kita (internalisasi) dan pada akhirnya menjadi bagian dari nilai-nilai hdup kita. Seperti dikatakan, pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik.

Harus Disikapi dengan Bijaksana

Sama seperti kelemahan karakter yang lain seperti kebiasaan berbohong atau berselingkuh, homoseksual juga dapat dianggap sebagai salah satu kekeliruan dalam pola hidup seseorang. Semakin seseorang dipaksa untuk membuka aib atau kebobrokannya justru individu ini justru akan mempertahankan kekeliruannya.

Tetapi disaat ketika kita menunjukkan penerimaan yang tidak bersyarat, maka orang tersebut akan semakin merasa tidak tertuduh dan perlahan-lahan akan terbuka untuk berubah. Ibarat kata seperti memainkan layang-layang, kita harus tahu kapan benang harus ditegangkan dan kapan benang harus diulur. Cara ini dapat dilakukan kepada kaum homoseksual agar mereka kembali ke orientasi seksual yang normal dan tidak lupa tetap memberikan masukan tentang bagaimana seharusnya bersikap sesuai norma dan nilai-nilai kebenaran.

Tuhan memang hanya menciptakan manusia terdiri dari dua jenis yaitu laki-laki dan wanita yang tujuannya adalah untuk kelangsungan generasin manusia itu sendiri. Tujuan Sang Pencipta ini tidak akan terlaksana jika pasangannya sejenis. Bimbingan dan arahkan pada mereka yang LGBT tharus tetap diberikan tanpa harus menghakimi (non judgemental). Tujuannya adalah mereka yang LGBT dapat berubah sesuai hati nuraninya. Tolak perilakunya, rangkul orangnya.

Kode unik: KLIK di sini

Tags:
0 shares
                            469 Views