Raja Salman dan Presiden Jokowi secara Bersamaan Melambaikan Tangan ke Arah Masyarakat Indonesia yang Menyambutnya - wartawanita.com

Mengintip Busana Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz al-Saud

Wartawanita.com — Mengintip sejenak busana yang dikenakan Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz al-Saud, bisa jadi merupakan satu sisi yang jarang disorot media dalam kunjungan penguasa negeri “petro dolar” ke Indonesia saat ini.

Sebelumnya, ada baiknya mengetahui panggilan resmi Raja Arab Saudi yang kedatangannya ke Indonesia ini telah membuat heboh dan dielu-elukan masyarakat. Sri Baginda Khadimul Haraman Al-Syarifain Salman bin Abdulaziz al-Saud, begitulah orang nomor satu Arab Saudi ini biasa dituliskan nama lengkapnya.

Setelah mendarat mulus dan disambut langsung oleh Presiden Joko Widodo di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Rabu, salah satu sisi menarik dari penampilan Sang Raja ini adalah busana yang dikenakannya.

Raja Salman dan Presiden Jokowi secara Bersamaan Melambaikan Tangan ke Arah Masyarakat Indonesia yang Menyambutnya - wartawanita.com
Kedatangan Raja Salman disambut Presiden Jokowi

Raja Salman mengenakan busana jubah atau “bisht” cokelat madu dan ornamen sulaman tepi jubah berwarna keemasan pada kerah dan lengan serta “ghutrah” atau penutup kepala atau sorban motif bergaris merah, lengkap dengan pengencang berwarna hitam untuk penutup kepala. Jubah bagian dalam Raja Salman berwarna beige.Raja Salman tampak mengenakan busana atau “bisht”, istilah jubah luar pada tradisi busana negara-negara Arab pada umumnya, yang berbeda dengan anggota rombongannya.

Dalam sebuah artikel yang dimuat Arab News pada 7 November 2012, Rima Almukhtar pernah membuat tulisan berjudul “Traditional & Modern: The Saudi Mans Bisht”. Rima menuliskan bahwa jubah itu biasanya terbuat dari kain wol dengan beragam warna dari putih, beige, krem, hingga cokelat, abu-abu dan hitam.

Busana “Bisht” atau jubah itu merupakan busana resmi pilihan bagi kalangan politisi, ulama, dan kalangan atas bagi negara-negara di dunia Arab.

Seorang penjahit ternama Arab Saudi dari Al Ahsa bernama Abu Salem, seperti dituliskan Rima Almukhtar mengatakan bahwa “bisht” awalnya dibuat di Persia. Arab Saudi mengenal busana tradisional itu ketika pedagang asal Persia mengenakan “bisht” saat menjalankan ibadah haji dan umrah di Mekkah, Arab Saudi.

Al Ahsa merupakan provinsi di Arab Saudi bagian timur dan dikenal sebagai daerah asal para penjahit “bisht” terbaik di Arab Saudi selama lebih dari 200 tahun, dan menjadi provinsi dengan produsen terkemuka di negara-negara untuk kawasan Teluk sejak 1940.

Berbagai perusahaan pembuat busana tradisional “bisht” terkenal itu antara lain Al-Qattan, Al-Kharas, Al-Mahdi, atau Al-Bagli. Beragam “bisht” dikenali dari sulamannya dari benang emas, perak, dan sutera.

Harga satu busana “bisht” bervariasi antara 100 Riyal Saudi atau Rp356.500 (nilai tukar satu Riyal sama dengan Rp3.565) hingga 20 ribu Riyal Saudi atau Rp71,3 juta tergantung dari pabrik, jahitan, warna, dan model.

Busana “bisht” paling mahal untuk keluarga Kerajaan Arab Saudi yang dijahit khusus untuk raja, pangeran, politisi, dan kalangan kaya raya. Umumnya keluarga kerajaan mengenakan jubah berwarna hitam, cokelat madu, beige, dan krem.

Mahalnya “bisht” untuk kalangan kerajaan ini cukup masuk akal karena merupakan buatan tangan (bukan pabrik), menggunakan benang emas, benang perak, atau kombinasi benang emas dan perak.

Terdapat tiga desain busana “bisht” utama untuk kalangan kerajaan Arab Saudi, yakni Darbeyah, Mekasar, dan Tarkeeb.

Darbeyah terkenal dengan buatan tangan dengan sulaman pola tradisonal. Mekasar atau yang dikenal denga Gasbi memiliki sulaman sutera, sedangkan Tarkeeb dengan sulaman emas.

Jubah dengan sulaman emas membutuhkan waktu lebih lama dalam pembuatannya karena membutuhkan keterampilan tertentu dengan tingkat akurasi yang tinggi. Lamanya waktu tergantung pada model dan rancangannya.

Untuk membuat busana “bisht” buatan tangan, model Hasawi, bisa memakan waktu antara 80 hingga 120 jam dengan empat penjahit sekaligus dengan tugas masing-masing.

Jubah Hasawi yang khusus dari Al Ahsa, menjadi yang paling mahal karena menggunakan rambut unta (camelus) atau rambut llama (camelidae) atau wol dari domba (caprinae) dengan sulaman emas pada bagian kerah dan lengan.

Meskipun “bisht” memiliki dua lengan tetapi secara tradisional mereka yang mengenakannya umumnya hanya memasukkan tangannya pada salah satu sisi lengan jubah sedangkan sisi lainnya dibiarkan tergantung.

Nah, setelah mengintip dan mengetahui sejarah serta pernak-pernik busana yang dikenakan Raja Salman saat berkunjung ke Indonesia ini, kira-kira adakah yang berminat mencontoh atau mengikuti gaya berpakaian Sang Raja dari Arab Saudi ini?

Penulis : Bagoes Mashudi

Sumber : ANTARA NEWS

LADIES MUST READ

Tags:
0 shares
                            186 Views