gus-mus-membaca-syair

Mengenal Sosok Gus Mus.

MOTIVASInews.com – Di laman facebook KH. Mustofa Bisri (biasa disapa Gus Mus) kerap kita temui quotes yang menyejukkan, tidak hanya bagi followernya dan bagi umat Islam. Dan di tengah maraknya kasus “penistaan agama” yang melibatkan calon gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, Gus Mus adalah salah satu ulama besar yang berbeda pandangan. Di mata Gus Mus, setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Kita bisa dan lebih baik mengambil manfaat dari kelebihan orang daripada sibuk dengan kekurangannya, tulisnya di facebook.

Lebih jauh Gus Mus berujar: Sebagai ‘virus’, makhluk yang diciptakan Allah bernama Ahok – gubernur DKI– itu memang luar biasa. Ia ‘menyerang’ otak dan menghilangkan akal sehat banyak orang, termasuk mereka yang seharusnya sangat waras. Parahnya lagi; penyakit yang diakibatkannya, menular dengan cepat. Mewabah. Hanya mereka yang dirahmati Allah saja yang selamat dari wabah ini.Lalu adakah penangkalnya? Ada; yaitu sebagaimana penangkal ‘virus-virus’ lain yang menyerang penalaran: bersikaplah sedang-sedang saja dalam segala hal, jangan berlebih-lebihan. Termasuk sedang-sedang saja dalam MENYENANGI dan tidak berlebih-lebihan dalam MEMBENCI. Allahu Akbar waliLlãhil hamd.

Dilahirkan di Rembang , 10 Agustus 1944, Gus Mus (KH. Ahmad Mustofa Bisri) beruntung dibesarkan dalam keluarga yang patriotis, intelek, progresif sekaligus penuh kasih sayang. Kakeknya (H. Zaenal Mustofa) adalah seorang saudagar ternama yang dikenal sangat menyayangi ulama. Dinaungi bimbingan para kiai dan keluarga yang saling mengasihi, yatim sejak masih kecil tidak membuat pendidikan anak-anak H. Zaenal Mustofa terlantar dalam pendidikan mereka. Buah perpaduan keluarga H. Zaenal Mustofa dengan keluarga ulama bahkan terpatri dengan berdirinya “Taman Pelajar Islam” (Roudlatuth Tholibin), pondok pesantren yang kini diasuh Gus Mus bersaudara. Pondok ini didirikan tahun 1955 oleh ayah Gus Mus, KH. Bisri Mustofa. Taman Pelajar Islam secara fisik dibangun diatas tanah wakaf H. Zaenal Mustofa, dengan pendiri dan pengasuh KH Bisri Mustofa sebagai pewaris ilmu dan semangat pondok pesantren Kasingan yang terkemuka diwilayah pantura bagian timur waktu itu, dan bubar pada tahun 1943 karena pendudukan Jepang. KH. Bisri Mustofa sendiri adalah menantu KH. Cholil Harun, ikon ilmu keagamaan (Islam) di wilayah pantura bagian timur (Anshari, et.al.,2005: 34). Ayah Gus Mus sangat memperhatikan pendidikan anak-anaknya, lebih dari sekedar pendidikan formal. Meskipun otoriter dalam prinsip, namun ayahnya mendukung anaknya untuk berkembang sesuai dengan minatnya.

BACA JUGA:  Ribuan Wisatawan Asing Berbondong ke Kawah Gunung Bromo

Menikah dengan Hj. Siti fatmah (1971), mereka dikaruniai 7 anak (6 putri, 1 putra bernama M. Bisri Mustofa), dan 13 cucu. Yang semakin langka dalam keluarga masa kini, namun nyata berlangsung dalam keluarga Gus Mus adalah hubungan saling menghormati, saling menyayangi diantara sesama anggota keluarga. Sebagai ilustrasi, kiprah sang ayah di dunia politik (Anggota Majelis Konstituante, 1955; Anggota MPRS, 1959; Anggota MPR, 1971), tidak dengan sendirinya membuat Gus Mus tertarik kepada dunia politik. Jika akhirnya Gus Mus terjun juga ke dunia politik (1982-1992 anggota DPRD Jawa Tengah; 1992-1997 Anggota MPR RI) itu lebih karena pertimbangan tanggung jawab yang tak bisa dielakkannya, mengingat kapasitas-kapasitasnya. Dengan mengambil sikap-sikap politik yang sulit, Gus Mus sangat memperhitungkan restu keluarganya, terutama ibundanya Hj. Ma’rufah, selain istri dan anak-anaknya.

Karena dedikasinya dibidang sastra, Gus Mus banyak menerima undangan juga dari berbagai negara. Bersama Sutardji Colzoum bachri, Taufiq Ismail, Abdul hadi WM, Leon Agusta, Gus Mus menghadiri perhelatan puisi di Baghdad (Iraq, 1989). Masyarakat dan mahasiswa Indonesia menunggu dan menyambutnya di Mesir, Jerman, Belanda, Perancis, jepang, Spanyol, Kuwait, Saudi Arabia (2000). Fakultas Sastra Universitas Hamburg, mengundang Gus Mus untuk sebuah seminar dan pembacaan puisi (2000). Universitas Malaya (Malaysia) mengundangnya untuk seminar Seni dan Islam. Sebagai cerpenis, Gus Mus menerima penghargaan “Anugerah Sastra Asia” dari Majelis Sastra (Mastera,Malaysia, 2005).

BACA JUGA:  Menurut Feng Shui Rumah yang Baik Bagaimana Sih?

Kepedulian Gus Mus yang tercurah di media massa melahirkan konsep ‘MataAir’. Konsep ini mewadahi mimpinya tentang media alternatif yang berupaya memberikan informasi lebih jernih, yang pada awalnya merupakan respons atas keprihatinannya terhadap bablas-nya kebebasan pers setelah Orde Baru tumbang, 1998). Meski belum sepenuhnya hadir seperti yang diharapkan Gus Mus, konsep ‘MataAir’ ini akhirnya terwujud dengan diluncurkannya situs MataAir, gubuk maya Gus Mus di www.gusmus.net  (2005), kemudian disusul penerbitan perdana majalah MataAir Jakarta (2007) dan MataAir Yogyakarta (2007). ‘MataAir’ mempunyai motto: “Menyembah Yang Maha Esa, Menghormati yang lebih tua, Menyayangi yang lebih muda, mengasihi sesama”.

Masyarakat juga menikmati inovasi lain sebagai buah dari tradisi menulis keluarga Mustofa ini. Pada pernikahan keempat putrinya, untuk masing-masing Gus Mus menerbitkan sebuah buku yang dibagikan sebagai cindera mata bagi para tetamu. Tiga diantaranya Kado pengantin (kumpulan nasehat untuk pengantin yang ditulis tokoh kiai dan cendekiawan, 1997), Bingkisan Pengantin (antologi puisi tokoh penyair, 2002), Cerita-Cerita Pengantin (kumpulan cerpen yang ditulis para tokoh cerpenis, 2004).

Penulis        :  F. Ferdinand

Editor           :  Bagoes Mashudi

LADIES MUST READ

Tags:
0 shares
                            78 Views