Kota Tua nan Kian Renta - Wartawanita.com

Kota Tua nan Kian Renta

Wartawanita.com – Beberapa waktu lalu, jika kita menyambangi Kota Tua di Barat Jakarta, tiap sudut tidak terlalu bersahabat menyapa. Panas Jakarta, minimnya pepohonan yang ditimpali polusi kendaraan yang melintas, membuat suasana makin tidak nyaman untuk jalan-jalan. Kehadiran pedagang kaki lima dan parkir liar adalah elemen lain yang bisa membuat calon pengunjung “ll-feel” untuk melanjutkan langkah mereka. Perlahan, Kota Tua terlihat mulai berdandan.

Kota Tua nan Kian Renta - Wartawanita.comKota Tua Jakarta mestinya bisa menjadi  salah satu destinasi wisata andalan ibu kota. Selama ini pesona dan keberadaannya seolah tenggelam di balik landmark-landmark lain di Jakarta seperti Monas, misalnya. Ia juga kalah “bersaing” dengan tetangganya seperti kawasan wisata belanja Mangga Dua dan wisata nightlife di sepanjang  Mangga Besar. Padahal, area dengan luas sekitar 1.3 KM persegi ini menyimpan banyak cerita tentang sejarah perjalanan Jakarta sebagai sentra bisnis sejak masa panjajahan Belanda. Kota Tua adalah cikal bakal kota metropolis.

Boleh dibilang, selain Museum Sejarah Jakarta (kita mungkin lebih mengenalnya dengan nama Museum Fatahilah), kawasan  Kota Tua belum memiliki magnet yang mampu secara signifikan menyedot pengunjung.  Dekrit untuk menjadikan Kota Tua sebagai Situs Warisan yang dirilis tahun 1972 oleh gubernur DKI saat itu, Ali Sadikin, tampaknya hanya efektif melindungi sejarah arsitektur kota. Belum mampu menjadikan kompleks ini menjadi destinasi wajib setiap wisatawan yang yang bertandang ke Jakarta.

Fenomena ini  juga dirasakan oleh duo Jokowi Widodo-Basuki Tjahaja Purnama saat memimpin Jakarta. Berbagai upaya dilakukan untuk membuat Kota Tua lebih hidup. Di antaranya adalah dengan menggelar Fiesta Fatahillah 13-16 Maret 2014 lalu. Penyelenggaranya kala itu  adalah konsorsium PT Pembangunan Kota Tua Jakarta dan Kelompok Pelestarian Budaya Kota Tua Jakarta. Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo menginginkan punya obsesi menjadikan Kota Tua manjadi ikon  Kota Jakarta. Program revitalisasi dilakukan dengan cara merekonstruksi gedung dan merestorasi beberapa bangunan. Sedianya  penataan kawasan juga akan menyentuh Pelabuhan Sunda Kelapa.

Sementara itu  Ahok juga telah mencanangkan strategi lain untuk Kota Tua. Gubernur DKI non-aktif ini berencana memindahkan sebagian kegiatan belajar Insitut Kesenian Jakarta dari Taman Ismail Marzuki ke Kota Tua. Dengan langkah ini, Ahok berharap  aktivitas seni yang digelar segenap civitas akademika  IKJ akan memberi warna baru yang bisa membuat Kota Tua makin semarak, dan pada gilirannya akan meningkatkan jumlah pengunjung.

Buat para first timer, rasanya tak perlu menunggu hingga revitalisasi Kota Tua rampung. Sebab banyak obyek yang tetap bisa dinikmati di kawasan yang dulu dikenal dengan nama Oud Batavia ini. Berdampingan dengan Museum Sejarah Jakarta, terdapat Museum Wayang dan Museum Seni Rupa dan Keramik. Selain itu ada juga Menara Syahbandar, sebuah spot tempat kita melakukan sight seeing Kota Tua dari ketinggian 18 meter.

Tak Begitu jauh dari situ terdapat pula Museum Bank Mandiri. Di sini kita bisa mencermati  sejarah perbankan tanah air lewat koleksi surat berharga, mata uang kuno (numismatik), brandkast, peti uang, mesin hitung uang mekanik, kalkulator, mesin pembukuan, mesin cetak, alat pres bendel, seal presssafe deposit box dan yang lainnya.

Bagi pecinta wisata kuliner, Kota Tua juga menyediakan sejumlah kafe dan restoran dengan interior bernuansa kolonial. Di Historia Food & Bar, misalnya, pengelola kafe memajang aneka rempah dalam stoples yang disusun di rak-rak gantung untuk “mengenang” peruntukkan lokasi ini sebagai gudang penyimpanan rempah-rempah di era kekuasaan Belanda. Sementara di sudut lain, pengunjung juga dapat mencicipi kuliner di Café Batavia yang terletak di Taman Fatahillah dengan pilihan menu Barat, Oriental, dan domestik. Pecinta makanan tradisional, bisa langsung ke Kafe Gazebo untuk menyantap makanan tradisional seperti gado-gado, soto, kerak telor, es buah dan masih banyak lagi opsi. Jika tak hendak makan,  Ojeg Sepeda klasik juga siap mengantar kita berkeliling Kota Tua. Dengan atau tanpa sopir.

Mencermati potensi yang dimiliki Kota Tua saat ini dan setelah revitalisasi kelak, rasanya obsesi CEO PT Pembangunan Kota Tua Jakarta, Lin Che Wei, untuk mengusulkan  Kota Tua  sebagai World Heritage ke UNESCO, bukanlah hal berlebihan. Setidaknya Kawasan Kota Tua tidak lagi menjadi sekadar tempat memutar dari arah Jl. Gajah Mada ke Mangga Dua. Dan kita juga sangat boleh berharap kelak Kota Tua tidak hanya ideal sebagai lokasi pemotretan pre-wedding…

Penulis: F Ferdinand

LADIES MUST READ

Tags:
0 shares
                            161 Views