105310_fingerkafe

Kala Jemari Bisa Ngomong…

Bisnis dan ibadah ternyata bisa berjalan beriringan. Hal ini sudah dibuktikan oleh Dissa Syakina Ahdanisa (26), owner Deaf Cafe Fingertalk. Kafe dan car wash ini membuka lapangan pekerjaan bagi penyandang tuna rungu, sekaligus menjadi media bagi komunitas tuna rungu dan teman-teman yang mendengar (hearing) untuk bisa berbagi dan mengenal satu sama lain.

Alasan pemberian nama Fingertalk, menurut Dissa, karena mereka lebih sering menggunakan jari jemari mereka, seolah berbicara dengan jari jemari mereka.

“Mereka kerjanya sangat fokus dan rajin, karena mereka tidak mendengar tidak ada distraksi-nya atau tidak ngobrol. Tahun 2013 lalu saya pernah lihat pusat pelatihan menarik di Nicaragua dan ada sebuah cafe mereka mengambil model deaf cafe, seluruh pegawainya semuanya tuli, tuna rungu. Di situlah saya terinspirasi,” ungkap Dissa.

Selain itu Dissa juga menjelaskan, ia ingin memberikan lahan pekerjaan tapi gol akhirnya adalah memberikan kemandirian finansial untuk mereka. Jenjang karir juga diperhatikan, hingga suatu saat mereka juga bisa menjadi leader, manager atau bahkan direksi.

Kendala yang dihadapi selama ini, menurut Dissa, adalah berkomunikasi dengan pelanggan. Karenanya pegawai Finger Talk disarankan, tidak hanya bahasa isyarat namun juga berkomunkasi lewat tulisan.

“Kami berharap orang-orang yang datang ke sini bisa berusaha menggunakan bahasa isyarat. Kami ingin menunjukkan kepada publik walaupun menyandang disabilitas, mereka bisa bekerja sangat rajin dan memberikan hasil yang sama baiknya dengan tempat-tempat yang lain,” pungkas Dissa.

Penulis    :  F. Ferdinand

Editor      :  Bagoes Mashudi

LADIES MUST READ

Tags:
0 shares
                            115 Views