Gunungan Sampah di Gunung

Gunungan Sampah di Gunung

Wartawanita.com – Sampah masih saja jadi masalah. Ironisnya, kini sampah tidak hanya mengotori area urban, namun juga sudah  menjadi pemandangan reguler di kawasan yang seharusnya tidak boleh tercemari. Termasuk hutan,  pantai dan pegunungan.

Gunungan Sampah di Gunung

Saat menggapai puncak Everest untuk pertama kalinya, 29 Mei 1953, Sir Edmund Hillary pasti tidak pernah mengira bahwa puncak yang menjadi impian setiap pendaki dunia itu bakal menjadi tempat sampah tertinggi di dunia. Bayangkan, menurut data yang dirilis pemerintah Nepal, tak kurang dari 50 ton sampah yang ditinggalkan para pendaki hanya dalam kurun waktu enam tahun. Sampah-sampah yang bertebaran di sepanjang jalur pendakian kebanyakan berupa logistik non-organik seperti tenda, peralatan makan, pakaian, tabung oksigen dan survivor kit lainnya.

Pemerintah Nepal, yang sampai saat ini masih dalam fase recovery akibat gempa dahsyat 25 April lalu, sebetulnya sudah menerapkan langkah antisipasi untuk mengurangi volume sampah Everest. Salah satunya adalah dengan aturan yang mewajibkan setiap pendaki untuk membawa turun sampah sekitar 8 KG per orang. Sampah-sampah ini kemudian ditukarkan dengan uang 4000 dolar AS yang sebelumnya telah mereka depositkan. Upaya lainnya adalah dengan mengerahkan tentara dan relawan dalam sebuah ekspedisi pendakian khusus untuk membersihkan sampah. Sebelumnya, aksi serupa juga pernah dilakukan dalam rangka kampanye Eco Everest Expedition. Pendakian atas nama kelestarian lingkungan ini dilakukan berkala sejak tahun 2008.

Di tanah air, fakta yang terjadi lebih memilukan lagi. Volume sampah di Gunung Semeru, Rinjani dan Gede-Pangrango sudah masuk kategori  memprihatinkan. Ketiga gunung populer ini menjadi tiga besar gunung terkotor di Indonesia. Akibatnya, petugas Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) bersama para sukarelawan secara berkala membersihkan jalur pendakian Gunung Semeru yang memiliki ketinggian 3.676 meter dari permukaan laut ini.

Pemandangan serupa juga terlihat di Taman Nasional Gede-Pangrango. Saking banyaknya sampah, Alun-alun Surya Kencana yang berada di kawasan dua gunung tersebut sering diplesetkan sebagai Bantar Gebang-nya Gede Pangrango. Selain Edelweiss dan sunset, para pendaki juga disuguhi pemandangan lain: sampah!

Sampah juga menjadi persoalan serius di beberapa tujuan wisata tanah air. Salah satunya di Pantai Kuta Bali. Setidaknya dua kali dalam setahun, Kuta mendapat “paket” sampah yang berasal dari muara-muara sungai di sekitarnya. Jumlahnya bisa mencapai puluhan ton. Sebagai ikon pariwisata, keadaan ini tentu saja tidak boleh dibiarkan terus terjadi. Kita tentunya tidak mau membuat wisatawan (apalagi mancanegara) enggan datang ke Bali hanya gara-gara tumpukan sampah.

Menurut laporan peneliti dari Amerika dan Australia yang dipimpin pakar lingkungan dari Universitas Georgia Jenna Jambeck, Indonesia merupakan negara penyumbang sampah plastik terbesar ke laut setelah China. Indonesia menghasilkan tak kurang dari 3,32 juta ton sampah plastik, atau 10 persen dari total sampah laut dunia.

Stop Typing, Start Acting

Keprihatinan soal makin joroknya gunung-gunung dan pantai kita sempat menjadi pembicaraan di media sosial. Tapi, tentu saja, gunung dan destinasi alam liar lainnya tidak akan bersih dari sampah hanya dengan me-retweet foto “gunungan sampah di gunung”. Perlu keseriusan dan kesadaran banyak pihak untuk menjaga keasrian alam kita. Langkah pemerintah Nepal yang mewajibkan setiap pendaki untuk membawa turun kembali sampah, rasanya sangat bisa untuk diterapkan di sini. Peraturan, termasuk punishment-nya, sudah seyogianya diberlakukan dengan konsisten.

Bagi Poppy Sovia, artis yang juga supporter Greenpeace, persoalan sampah tidak semata-mata urusan pemerintah. Budaya bersih harus dimulai dari individu.

“Kita nggak usah mikirin orang lain dulu, deh. Kita lakukan saja apa yang kita bisa lakukan untuk menciptakan budaya bersih. Saya sendiri sering menegur mereka yang suka membuang sampah sembarangan, termasuk pengendara yang membuang karcis tol dan botol minuman di jalan raya. Saya sangat percaya kalau kebaikan itu bisa menular. Begitu juga kebiasaan buruk,” tambah nominee FFI 2007 lewat perannya dalam film Mengejar Mas Mas.

Bagi Poppy, keluarga mempunya peran yang sangat penting dalam pembentukan disiplin, termasuk urusan kebersihan. Poppy juga berharap pendidikan tentang kebersihan tidak berhenti di tingkat pendidikan dasar. Sebab, menurut  pengamatan Poppy, tidak sedikit orang kaya dan berpendidikan tapi joroknya minta ampun.

Awal Mei tahun lalu, Ocean Defender Indonesia (program pelestariaan laut yang digagas Grenpeace) melakukan aksi bersih-bersih pantai Sunda Kelapa. Namun tentu saja kita tidak harus jadi aktivis lingkungan hidup  untuk bisa berpartisipasi menjaga kebersihan alam. Dengan membatasi penggunaan kantong plastik dan memilah sampah, kita sebetulnya sudah berpartisipasi dalam kampanye global. Itu saja dulu, dan biarkan kebiasaan itu menulari orang-orang di sekitar kita.

Kode unik: W#pernik47

LADIES MUST READ

Tags:
0 shares
                            149 Views