siti

Ketika Air Susu Dibalas Tuntutan 1,8 Miliar

Wartawanita.com – Masihkah surga berada di telapak kaki ibu? Pertanyaan retoris ini barangkali pantas dilayangkan saat mencermati kasus anak  yang menggugat ibu kandungnya di Garut. Yani Suryani menggugat ibunya sendiri , Siti Rokayah (83th) dengan tuntutan 1,8 miliar atas utang 21 juta rupiah sejak tahun 2001. Kasus ini mengingatkan kita akan kejadian serupa yang pernah dialami Fatimah 2014 lalu.

Kasus ini menjadi viral bukan lantaran nominal tuntutan yang membengkak dari nilai utangnya, melainkan karena Siti Rokayah tak pernah menduga bakal digugat putrinya sendiri. Keadaan ini tentu saja menggugah banyak pihak, termasuk Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi. Dedi bahkan menyempatkan diri untuk menemui Rokayah untuk menghibur Siti Rokayah dan menutup pokok utang yang digugat Yani. Dedi juga berjanji, seandainya Siti Rokayah kalah di pengadilan, ia akan berinisiatif menggalang dana membayar tuntutan.

Terlepas bahwa langkah ini “dicurigai” berkaitan berhubungan dengan pilkada Jabar 2018, dan Garut bukan daerah kekuasaannya, langkah Dedi ini  sudah sepatutnya diapresiasi. Lewat sebuah bincang-bincang di Kompas TV, Dedi mengatakan bahwa misinya adalah untuk memberi pembelajaran kepada semua pihak agar mendahulukan musyawarah. Apalagi di lingkungan keluarga.

“Kalau sampai pengadilan mengabulkan tuntutan, saya akan menyarankan Siti Rokayah untuk menuntut balik biaya melahirkan dan membesarkan penuntut,” papar Dedi di acara tersebut.

Tuntutan penggantian  biaya bersalin dan sekolah mungkin bisa saja diganti seorang anak, namun nilai imaterial yang harus ia kembalikan tak akan pernah bisa dikonversi menjadi mata uang.

Dedi tidak sendiri. Pakar hukum pidana Asep Irawan juga bersedia memberi pertimbangan hukum tanpa dibayar.

Semua berawal dari kedatangan Yani ke kediaman Leni pada medio Oktober 2016. Eep Rusdiana, juru bicara keluarga Amih, menjelaskan, tanpa sepengetahuan saudara-saudaranya, Yani meminta Amih menandatangani surat pengakuan utang dengan nominal Rp 41,5 juta. Penandatanganan surat itu baru diketahui keesokan harinya.

Surat tersebut merupakan buntut peristiwa di masa lalu, tepatnya pada 2001. Kala itu putra keenam Amih yang juga kakak Yani, Asep Ruhendi, meminjam uang kepada Yani senilai nominal tersebut. Uang itu hendak digunakan untuk menebus sertifikat rumah Amih yang dijadikan jaminan utang Asep ke BRI.

Kepada sebuah media online Yani menjelaskan, bahwa apa yang dia lakukan sebagai pelajaran. Selama ini dia menilai ibunya dimanfaatkan oleh saudara-saudaranya. Salah satunya untuk meminjam uang ke bank dengan memakai sertifikat atas nama ibunya.

Siti Rokayah sendiri saat ditanya bentuk penyelesaian yang diinginkannya, hanya mengatakan ingin persoalan tersebut cepat selesai. Tentunya dengan cara kekeluargaan. Saat ini Siti mengaku hanya bisa berdoa semoga Tuhan membukakan pintu hati anaknya.

Siti masih menyisakan pintu surga untuk anaknya.

Kode unik: W#headlines76

LADIES MUST READ

Tags:
0 shares
                            103 Views