http://www

Acara Wisata di Layar Kaca, Buat Siapa?

Wartawanita.com – Program-program  bertema travelling  makin bejibun di layar kaca . Meski banyak, tayangan-tayangan tersebut  belum mampu menggoda kita untuk menyambangi destinasi yang ditawarkan. Kenapa ya?

Secara konsep, program berlatar keindahan alam biasanya mengusung misi mulia mempromosikan  tempat-tempat eksotik di tanah air. Terutama yang belum banyak mendapat publikasi. Namun kenyataannya, eksekusi konsep kerap tak seindah ketika sebuah program masih berupa storyboard. Banyak acara wisata di TV gagal memikat perhatian pemirsa lantaran host-nya asik sendiri bercanda dengan sesama host atau bintang tamu, yang biasanya direkrut dari kalangan komedian dan selebritas. Acara yang seharusnya ditujukan buat pemirsa – sorry to say –menjadi lebih mirip video liburan keluarga.

Acara Wisata di Layar Kaca, Buat Siapa?Mengangkat potensi wisata sebuah daerah, tidak melulu harus dengan mengekspos destinasi wisatanya. Terlalu biasa dan bisa didapatkan dari sumber lain seperti  website dan YouTube. Pendekatan dapat dilakukan melalui unsur-unsur budaya lainnya seperti tarian, adat-istiadat, mode, seni bela diri, kuliner dan bahkan kerawanan. Seperti Scam City misalnya. Program yang ditayangkan National Geographic ini secara gamblang mengupas praktik-praktik penipuan yang sering terjadi di kota-kota besar dunia. Lengkap dengan modus operandi dan wawancara dengan oknum pelaku copet, jambret, begal dan bahkan dokter palsu. Pesan dari acara ini jelas, untuk memberi peringatan buat para turis agar lebih berhati-hati saat berada di kota yang mereka datangi.

Program lain yang tak kalah menarik adalah Layover di channel TLC. Tayangan ini menawarkan opsi terbaik jika kita hanya punya waktu tak lebih dari dua hari di suatu tempat. Lengkap dengan tips dan itenarary yang padat dan efektif

Kuliner adalah benang merah yang paling populer di banyak acara wisata TV. Di luar sana, No Reservations  yang ditayangkan channel Discovery Travel & Living adalah yang paling “legendaris” karena mampu bertahan  sejak tahun 2005 (dari 2002, jika dihitung dari cikal-bakal program di Travel Channel). Acara dengan host Anthony Boldin ini bermaterikan eksplorasi makanan khas negara yang didatangi. Tak jarang menu yang disantap Boldin cenderung menjijikkan, setidaknya menurut ukuran umum. Sementara di tanah air kita juga pernah menjadi saksi suksesnya acara Selera Nusantara yang dibawakan Bondan Winarno dengan jargonnya “Maknyuss…”

Selain konsep, kemasan juga mempunyai peranan yang signifikan untuk sebuah acara agar bisa bertahan. Kemasan biasanya disesuaikan dengan “ideologi” network yang memesannya. Program wisata di MTV, misalnya, tentu digarap berbeda dengan acara sejenis untuk konsumsi pemirsa National Geographic Channel. Begitupun kemasan program wisata yang membahas hotel-hotel mewah dan kapal pesiar, jelas berbeda dengan tayangan dengan materi blusukan ala backpackers.

Kemasan ini berimbas pada pemilihan host. Host yang cakep dan terkenal bukan jaminan bahwa sebuah program wisata di televisi bakal ditonton banyak orang. Sebab “pemeran utama” dari sebuah program travelling di TV adalah konten-nya, bukan pembawa acaranya. Apalagi jika sang pembawa acara sejak awal memang tidak memiliki passion terhadap dunia petualangan dan pariwisata. Jika hanya berbekal  menghafal script,  bisa dipastikan, acaranya bakal garing kerontang.  Ryanni Djangkaru, saat menjadi host Jejak Petualang di Trans 7 beberapa waktu lalu, merupakan satu dari sedikit host yang know what they’re talking about. Dengan kata lain, selain doyan jalan-jalan, seorang host program travelling haruslah memahami dan kalau perlu menjiwai pekerjaannya. Pada gilirannya, hal ini bakal tercermin pada cara ia berkomunikasi dengan pemirsa. Spesifikasi inilah yang jarang kita temui pada acara travelling televisi dalam negeri.

Tentu saja tidak semua program berlatar wisata tidak laik tonton. Ekspedisi Cincin Api (Kompas TV) dan Alenia’s Journey to Papua di Metro TV adalah beberapa di antara program lokal  yang mampu  “stand out” di tengah maraknya acara-acara serupa. Banyak hal baru yang kita bisa kita peroleh dengan menyimak kedua program ini. Selain itu, kita segera tahu bahwa tayangan dipersiapkan dengan matang, bukan kejar tayang. Kita juga dengan mudah mengetahui  bahwa perjalanan mereka didukung oleh tim eskpedisi, tim produksi dan juga  tim riset yang mumpuni. Boleh dibilang, kecintaan mereka terhadap  substansi tayangan jauh melampaui keuntungan finansial yang (belum tentu) mereka dapatkan. Sekali lagi, kata kuncinya adalah passion.

Fair nggak sih kalau  kita selalu membandingkan “apel lokal” dengan “apel luar negeri”?. Hari gini, mustinya, kualitas sudah tidak lagi mengenal batas  wilayah. Ketika sebuah acara mulai bikin mules, tanpa diperintah pun jempol kita bakal refleks menganti channel.  It’s that simple.

Kode unik: W#pernik77

LADIES MUST READ

Tags:
0 shares
                            187 Views